Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 05 November 2011

Budaya Jawa Timur


Pendahuluan


Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya alam, di karenakan posisi yang sangat strategis . Tidak hanya itu pula , Indonesia pun kaya akan adat, suku , serta budaya. Meskipun terdapat berbagai macam perbedaan budaya  tetapi tetap satu kesatuan. Bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa yang ramah, saling menolong,  serta peduli terhadap orang lain. Bangsa yang baik adalah bangsa yang mau mengenal dan melestarikan budayanya. Baiklah, disini saya akan membahas salah satu budaya di Indonesia yaitu Jawa Timur.

Isi

Suku


                Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukotanya adalah Surabaya.Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur bagian timur), terutama di daerah pesisir utara dan selatan. Di sejumlah kawasan Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.
            Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sejumlah kawasan industri lainnya.

Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.
       Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya. Dibanding dengan bahasa Jawa dialek Mataraman (Ngawi sampai Kediri), bahasa dialek malang termasuk bahasa kasar dengan intonasi yang relatif tinggi. Sebagai contoh, kata makan, jika dalam dialek Mataraman diucapkan dengan 'maem' atau 'dhahar', dalam dialek Malangan diucapkan 'mangan'. Salah satu ciri khas yang membedakan antara bahasa arek Surabaya dengan arek Malang adalah penggunaan bahasa terbalik yang lazim dipakai oleh arek-arek Malang.

Kesenian

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso.
Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.
Terdapat pula kebudayaan semacam barong sai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Wulung adalah kebudayaan khas Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki macan kadhuk. Kedua kesenian itu sudah jarang ditemui.

Budaya dan adat istiadat

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita.
Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

Agama

Suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian menganut agama Kristen dan Katolik, dan ada pula yang menganut Hindu dan Buddha. Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama Islam sangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada Suku Madura. Suku Osing umumnya beragama Islam. Sedangkan Suku Tengger menganut agama Hindu.
Orang Tionghoa umumnya menganut Konghucu, meski ada pula sebagian yang menganut Buddha, Kristen, dan Katolik; bahkan Masjid Cheng Ho di Surabaya dikelola oleh orang Tionghoa dan memiliki arsitektur layaknya kelenteng.

Arsitektur

Bentuk bangunan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Bangunan khas Jawa Timur umumnya memiliki bentuk joglo, bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep).
Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.

Kota-kota

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Timur, hierarki perkotaan di Jawa Timur terdiri atas perkotaan metropolitan, perkotaan menengah, dan perkotaan kecil.
  • Perkotaan metropolitan meliputi Perkotaan Surabaya Metropolitan Area (Kota Surabaya, perkotaan Sidoarjo dan sekitarnya, perkotaan Gresik dan sekitarnya, serta perkotaan Bangkalan dan sekitarnya) dan Perkotaan Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu, dan perkotaan Kepanjen dan sekitarnya).
  • Perkotaan menengah terdiri atas: Perkotaan Tuban, Perkotaan Lamongan, Perkotaan Jombang, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Perkotaan Bojonegoro, Kota Madiun, Kota Kediri, Perkotaan Jember, Perkotaan Banyuwangi, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Perkotaan Pamekasan dan Kota Batu.
  • Perkotaan Kecil terdiri atas: Perkotaan Sampang, perkotaan Sumenep, Perkotaan Ngawi, Perkotaan Magetan, Perkotaan Nganjuk, Perkotaan Bondowoso, Perkotaan Tulungagung, Perkotaan Trenggalek, Perkotaan Ponorogo, Perkotaan Situbondo, Perkotaan Pacitan, Perkotaan Lumajang, Perkotaan Kepanjen, Perkotaan Kraksaan dan Perkotaan Caruban.

Makanan khas

Pada dasarnya, lidah orang jawa terkenal menyukai rasa manis. Padahal rasa pedas kuliner juga banyak kita jumpai di timur pulau jawa ini. Makanan khas Jawa Timur di antaranya adalah rawon dan rujak petis. Surabaya terkenal akan rujak cingur, semanggi, lontong balap, sate kerang, dan lontong kupang. Kediri terkenal akan tahu takwa, tahu pong, dan getuk pisang. Madiun dikenal akan nasi pecel madiun dan sebagai penghasil brem. Kecamatan Babat, Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe selain itu Cwie Mie dan Bakso juga merupakan kuliner khas daerah ini. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Gresik terkenal dengan nasi krawu, otak-otak bandeng,bonggolan dan pudak nya. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Dan Trenggalek merupakan penghasil Tempe Kripik. Blitar memiliki makanan khas nasi pecel. Buah yang terkenal asli Blitar yaitu Rambutan. Banyuwangi terkenal dengan sego tempong dan makanan khas campurannya yaitu rujak soto dan pecel rawon.
Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura, sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek.

Sifat Orang Jawa

Sebagian masyarakat kita berpendapat, dalam mengambil keputusan, orang Jawa itu lamban. Tidak cepat bertindak. Penakut. Maka setiap masalah yang dihadapi menjadi berlarut-larut. Yang lebih celaka, masalah lama belum terselesaikan, muncul masalah baru! Maka situasi dan kondisi permasalahan semakin ruwet-runyam.
Benarkah sifat orang Jawa itu lamban? Kebudayaan Jawa adalah heterogen, maka watak dan tabiat mayarakatnya pun beragam. Ada yang kalem, ada yang cekatan, ada yang klelar-kleler, ada yang rajin, ada yang polos, ada yang halus, ada yang berangasan, ada yang jahat ada yang baik, ada yang berbelit-belit, ada yang sombong, ada yang rendah hati, ada yang terbelakang, ada yang modern, ada yang peduli, ada yang cuek, ada yang mengelompok, ada yang menyendiri, dan sebagainya (Drs.Imam Suradjo, M.Hum/Kajian Budaya Jawa/Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS/2008). Ragam watak atau tabiat wong Jawa itu komplit. Oleh sebab itu watak orang Jawa tidak bisa disamaratakan (digebyah-uyah).

Sejarah

Orang Jawa itu berbudaya satu. Mereka berpikir dan berasa seperti nenek moyangnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur; dengan Surakarta dan Yogyakarta sebagai pusat kebudayaannya. Seiring dengan zamannya, maka bahasa, budaya, dan gaya hidup wong Jawa juga mengalami proses asimilasi dan akulturasi.  Asimilasi dan akulturasi adalah fenomena budaya, kapan pun dan di mana pun. Dalam era globalisasi unsure-unsur bahasa, budaya, dan gaya hidup, saling mempengaruhi; saling memberi dan menerima. Pihak yang kuat, biasanya menjadi pihak yang memberi (Marbangun/1984).
Akibat globalisasi, orang Jawa semakin tersebar ke penjuru dunia. Maka bahasa, budaya, serta gaya hidup, semakin ikut mendunia. Dan ini tentu saja, sedikit atau banyak, ikut memberi warna baru kepada perilaku, adab, dan tabiat orang Jawa dan keturunannya.
Sejarah nasional mencatat, sejak dulu, jumlah suku bangsa Jawa terbesar di Indonesia. Bahkan, bahasa Jawa menduduki urutan ke-11 terbesar pada deretan bahasa dunia (Drs. Imam Sutardjo, M.Hum/2008). Pengguna bahasa Jawa tercatat 75,5 juta orang, dari penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 320 jiwa.
Sejarah purbakala pun mencatat, budaya Jawa sudah cukup tua dan tinggi. Sampai sekarang pun dokumentasi tertulis sastra-budaya Jawa kuno, masih tersimpan baik di museum-museum. Dari semua dokumen tertulis tersebut dapat dibuktikan bahwa manusia Jawa beberapa abad yang lalu telah memiliki kehidupan yang relatif mapan. Sejumlah candi dan patung kuno yang tersebar di pulau Jawa sebagai bukti secara faktual dan visual.

Perasaan Orang Jawa

Perasaan orang Jawa (tradisional-asli) dapat dibedakan: aji, pakewuh, ajrih, lingsem, isin. Aji adalah rasa hormat kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, pangkatnya, martabatnya. Tidak cuma hormat, bahkan ada yang bercampur rasa kagum. Pakewuh (basa krama-nya: pakewet) adalah perasaan malu ketika dia harus berhubungan, bergaul, bercampur, bertemu, apalagi minta tolong, kepada orang yang derajat dan pangkatnya lebih tinggi.
Ajrih adalah perasaan malu (bercampur takut) disebabkan karena dirinya merasa telah bersalah, atau telah melakukan sesuatu yang kurang baik, kepada seseorang.
Rasa senang (krama: remen) adalah perasanaan senang, enak, nyaman, khususnya dalam berkomunikasi dengan orang lain yang sederajat.
Tresna adalah rasa senang, cinta, simpati, saat bertemu, bergaul, dengan orang lain, yang biasanya telah akrab.
Gething adalah rasa benci. Biasanya benci disebabkan oleh sifat-sifat buruk seseorang, sehingga dia menjauhi orang tersebut. Jadi jelas, budaya Jawa (bukan orang Jawa) memiliki budaya malu.
Jika bertemu dengan orang yang belum dikenal, maka ada dua kemungkinan. Pertama: orang Jawa akan menghindar, negative thinking. Kedua: bersahabat, aktif, positive thinking. Pada umumnya orang Jawa suka membantu orang lain, sesuai ungkapan dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan.
Adat atau kekhasan orang Jawalah yang mampu untuk belajar beradaptasi dan memaklumi apa yang terjadi di sekeliling kita dengan diam dan mengamati, adat orang Jawalah yang membuat kita mampu bertahan untuk tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa dalam kondisi yang ‘aneh’, adat orang Jawalah yang seringkali membuat kita terpaksa berkata ‘iya’ meskipun kita ingin berkata 'tidak' karena sifat pekewuhan terhadap orang lain, dan pada akhirnya, adat orang Jawalah yang sering dan sangat sering membuat kita harus berkorban perasaan karena memendam apa yang kita rasakan akibat perilaku atau perkataan orang lain yang sebenarnya menyakitkan.

Penutup


Sifat Orang Jawa umumnya lembut, akomodatif dan mudah bersahabat dengan siapa pun, tetapi orang non Jawa perlu hati-hati menyikapi dan memandang orang Jawa. Jangan sekali-kali meremehkan atau mengecewakan. Kenapa? Karena orang Jawa punya filosofi tiga nga, ngalah, ngalih dan ngamuk. Orang Jawa, katanya, suka ngalah untuk tujuan jangka panjang yang menguntungkan.
Tidak semua orang Jawa lamban, tergantung orangnya. Banyak orang Jawa yang berani bertindak tegas dan cepat (trampil-trengginas-tanggap-tanggon).

Sumber


http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur#Prasejarah
http://virgo-pendidikan.blogspot.com/2011/03/kebiasaan-dan-sifat-menurut-letak.html
http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/15/benarkah-sifat-orang-jawa-itu-lamban/

1 komentar: